Wednesday, December 3, 2008

Membumilah, Open Source! (dari WOSOC 2008;Bali)


Ilustrasi (ist.)

Open source seharusnya identik dengan gotong royong dan kebersamaan. Open source bukan cuma milik sebagian orang, terlebih kaum teknis. Ayo, membumilah, open source!

Berbicara mengenai open source bisa jadi sangat membosankan karena melulu bicara soal teknis. Namun kalau dikemas dengan baik, open source bisa jadi pembahasan yang menarik.

Sayangnya, ini belum saya dapati saat mengikuti ajang Workshop on Open Source and Open Content (WOSOC) 2008. Konferensi TI skala internasional ini, setidaknya bagi saya, tak ubahnya seperti ikut mata kuliah teknis yang membuat mahasiswanya ingin cepat-cepat mendengar lonceng tanda pelajaran usai.

Mungkin tak bisa disalahkan juga kalau ajang yang digelar di Kuta, Bali, sejak 30 November hingga 3 Desember 2008 ini, jadi semacam perkuliahan. Sebab, hampir lebih dari 40 persen peserta--120 akademisi dan peneliti TI dari 25 negara--yang ikut di konferensi ini tengah mengambil gelar S3.

"Model (perkuliahan) seperti ini memang permintaan IEEE selaku penggagas acara," kata I Made Wiryana, salah satu pembicara di acara workshop open source.

IEEE atau Institute of Electrical and Electronics Engineers sendiri merupakan organisasi profesi non-profit yang terdiri dari banyak ahli di bidang teknik yang mempromosikan pengembangan standardisasi dan teknologi-teknologi baru dalam semua aspek industri dan rekayasa (engineering), yang mencakup telekomunikasi, jaringan komputer, kelistrikan, aerospace, dan elektronika.

Organisasi ini memiliki lebih dari 300.000 anggota individual yang tersebar dalam lebih dari 150 negara. Aktivitasnya mencakup beberapa panitia pembuat standar, publikasi terhadap standar-standar teknik, serta mengadakan konferensi.

Ajang workshop open source ini sejatinya hanya sebagai conjuntion atau turunan dari acara utama, the 4th IEEE International Conference on Signal Image Technology and Internet Based Systems (SITIS).

Namun demikian, meskipun konferensi TI kelas dunia ini sangat kaku, tetap tak bisa juga dipungkiri bahwa materinya sangat bagus untuk perkembangan industri open source lokal. Terlebih, para pembicara yang memaparkan memang orang yang telah sukses mengimplementasikan produk open source mereka di negaranya masing-masing.

Lagi-lagi sayang, acara sebagus ini juga tak didukung penuh oleh pemerintah. Saya bilang tak mendukung penuh karena cuma ada logonya saja yang mewakili, bukan orangnya. Padahal, kalau pemerintah mau, mereka bisa belajar dari contoh sukses open source di negara lain tanpa perlu susah-susah ke luar negeri.

Ibaratnya, kalau kata Adhari Cahya Mahendra dari Sun Microsystems Indonesia, belajar dengan guru bisa hemat 40 tahun. Ini sudah enak banget karena ahlinya open source yang datang ke sini, eh, malah pemerintahnya yang malas datang. Padahal masih di negara sendiri.

"Harusnya pemerintah, akademisi, industri, dan LSM, duduk bareng di sini. Sayang sekali," lirih Harry Kaligis, General Manager PT Sun Microsystems Indonesia, menimpali.

Harry juga tak setuju kalau pemaparan soal open source disampaikan terlalu teknis dengan bahasa yang tidak membumi. Jadi kurang menarik karena open source serasa hanya milik sebagian orang saja.

##from detikinet.com;Rabu, 03/12/2008 10:36 WIB##

0 comments:

Related Post :